BP Lawyers – Terhadap sebuah penciptaan atau kreasi (Ilmu Pengetahuan, Seni dan Sastra) banyak orang yang belum bisa membedakan secara normatif apa itu pemegang hak cipta dan apa itu pemegang lisensi. Kecenderungan ini terjadi sebagai konsekuensi bahwa pemegang lisensi bisa menjadi pemegang hak cipta untuk periode waktu tertentu. Untuk itu, artikel ini akan mengulas secara singkat mengenai perbedaan sekaligus kedekatan antara Pemegang Hak Cipta dan Pemegang Lisensi.

Hak Cipta & Pemegang Hak Cipta

Hak Cipta mendapat pengertian sebagai hak eksklusif dari penciptanya. Dalam Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dinyatakan sebagai hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam Pasal 4 UU Hak Cipta disebut bahwa Hak Cipta merupakan hak eksklusif yang terdiri atas hak moral dan hak ekonomi.

Pemegang Hak Cipta merupakan pihak memiliki hak eksklusif baik secara penuh maupun sebagian terhadap suatu hak cipta. Dalam UU Hak Cipta, ada tiga pihak yang dinyatakan sebagai pemegang hak cipta. Pasal 1 angka 4 UU Hak Cipta menyebutkan bahwa Pemegang Hak Cipta adalah:

  1. Penciptasebagai pemilik Hak Cipta. Pencipta adalah seorang atau beberapa orang yang secara sendiri-sendiri atau bersama-sama menghasilkan suatu ciptaan yang bersifat khas dan pribadi.
  2. Pihak yang menerima haktersebut secara sah dari Pencipta.
  3. Pihak lain yang menerima lebih lanjut hakdari pihak yang menerima hak tersebut secara sah.

Adapun yang dimaksud sebagai hak eksklusif merupakan hak yang diperuntukkan khusus kepada Pencipta. Oleh karenanya, pihak lain tidak diperkenankan memanfaatkan hak itu tanpa se-izin dari Pencipta. Pemegang Hak Cipta pada poin nomor 2 dan nomor 3 hanya bisa memiliki sebagian dari hak eksklusif tersebut yakni hanya pada hak ekonomi.

Pihak yang bukan Pencipta (poin nomor 2 dan nomor 3) hanya bisa mendapatkan Hak Cipta dan Pencipta melalui Pengalihan Hak Cipta. Menurut Pasal 16 ayat (2) UU Hak Cipta, Hak Cipta dapat beralih atau dialihkan, baik seluruh maupun sebagian disebabkan karena: pewarisan, hibah, wakaf, wasiat, perjanjian tertulis, atau sebab lain yang dibenarkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pengalihan Hak Cipta hanya pada hak ekonomi, sementara hak moral yang jadi bagian dari hak eksklusif pencipta tetap melekat pada penciptanya. Pasal 5 ayat (2) UU Hak Cipta menyebutkan: Hak moral sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dapat dialihkan selama Pencipta masih hidup, tetapi pelaksanaan hak tersebut dapat dialihkan dengan wasiat atau sebab lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan setelah Pencipta meninggal dunia.

Pemegang Lisensi

Dalam urusannya dengan Hak Cipta, Pemegang Lisensi merupakan pemegang hak cipta dalam kurun waktu sesuai perjanjian lisensi. Berdasarkan Pasal 1 angka 20 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dinyatakan sebagai: pihak yang diberikan izin tertulis yang diberikan oleh Pemegang Hak Cipta atau Pemilik Hak Terkait untuk melaksanakan hak ekonomi atas Ciptaannya atau produk Hak Terkait dengan syarat tertentu. Hak ekonomi yang dimaksud berupa hak untuk memperoleh manfaat ekonomis dari suatu hak cipta dengan cara mengumumkan dan memperbanyak.

Pemegang Lisensi melalui perjanjian lisensi dengan pemegang hak cipta memiliki jangka waktu penggunaan hak cipta dimana dalam pada ini Pemegang Lisensi akan memberikan imbal balik berupa royalti kepada pemegang hak cipta atau pemilik hak. Setelah habis masa waktu maka pemegang lisensi tidak lagi berhak atas hak cipta terkait.

Baca Juga: Pedoman tentang THR Lebaran bagi Buruh dan Pekerja Tahun 2021