Skip to content
Tiga Persamaan dan Perbedaan Antara Arbitrase dan Mediasi

Tiga Persamaan dan Perbedaan Antara Arbitrase dan Mediasi

Tiga Persamaan dan Perbedaan Antara Arbitrase dan Mediasi

 

Baik arbitrase maupun mediasi memiliki tujuan untuk mempersingkat proses penyelesaian sengketa.

Penyelesaian sengketa melalui arbitrase kini semakin diminati. Efesien dan efektif adalah dua kata yang dianggap menggambarkan arbitrase dan karena hal itu pula lah arbitrase kini lebih diminati oleh para kalangan bisnis dibanding pengadilan. Selain arbitase, masih ada lagi alternatif pilihan sengketa yang prosesnya dianggap lebih fleksibel dan menguntungkan para pihak, yaitu mediasi.  Meskipun sama-sama alternatif penyelesaian sengketa, mediasi dan arbitrase memiliki karakteristiknya sendiri yang membedakan satu sama lain. Maka dari itu, penting untuk mengetahui karakteristik masing-masing alternatif sengketa guna menentukan cara penyelesaian mana yang sesuai dengan kebutuhan. Berikut ini adalah ulasan mengenai perbedaan dan persamaan arbitrase dengan mediasi berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia.

Perbedaan

  1. Pihak yang Mengambil Keputusan.

Di dalam proses arbitrase, pihak yang mengambil keputusan adalah arbiter. Arbiter ini adalah pihak ketiga yang ditunjuk oleh para pihak yang bersengketa atau pengadilan untuk memeriksa dan menjatuhkan putusan terhadap sengketa yang terjadi.

Sementara dalam proses mediasi, pihak ketiga atau mediator bukanlah pihak yang mengambil keputusan dalam penyelesaian sengketa. Mediator di sini adalah pihak netral yang bertugas untuk menengahi dan memfasilitasi para pihak untuk berunding hingga memperoleh kesepakatan penyelesaian sengketa,  bukan sebagai pihak yang memutuskan penyelesaian sengketa itu sendiri sebagaimana arbiter.

  1. Bentuk Penyelesaian yang Dihasilkan

Di dalam proses arbitrase, suatu sengketa diakhiri oleh putusan yang mengikat para pihak. Putusan ini sifatnya final dan mengikat yaitu tidak terdapat upaya hukum lain serta harus dipatuhi oleh para pihak. Layaknya putusan yang dihasilkan oleh pengadilan,  dalam putusan arbitrase ada pihak yang menang dan kalah sehingga sifatnya Win-Lose Judgement.

Sedangkan mediasi, hasil penyelesaian sengketanya ditentukan oleh para pihak karena mediator hanya bertindak sebagai fasilitator atau penengah dalam perundingan sehingga hasil penyelesaiannya bersifat win-win solution yaitu tidak ada salah satu pihak yang kalah atau pun yang menang.

  1. Sifat Putusan yang Dihasilkan

Dalam UU Arbitrase, diketahui bahwa arbitrase dapat memberikan putusan terhadap sengketa yang terjadi atau pendapat yang mengikat terhadap perbedaan penafsiran dalam pelaksanaan perjanjian. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, baik itu pendapat maupun putusan keduanya memiliki sifat final and binding, yaitu tidak terbuka upaya hukum lain dan harus dipatuhi oleh para pihak. Hal ini tentunya disebabkan oleh adanya ketentuan dalam UU arbitrase yang pada intinya menyatakan bahwa dengan diterimanya penunjukan arbiter, maka terdapat perjanjian perdata yang mengakibatkan arbiter harus memberikan putusan yang adil dan para pihak harus mematuhi putusan yang dibuat oleh arbiter. Selain itu, putusan arbitrase juga memiliki kekuatan eksekutorial sehingga dapat dilaksanakan setelah dilakukan pendaftaran ke pengadilan.

Sementara dalam proses mediasi, saran mediator sifatnya tidak mengikat sehingga para pihak yang akan menentukan sendiri bagaimana penyelesaiannya berdasarkan kesepakatan. Selama mediasi berlangsung, para pihak dituntut aktif untuk menentukan sendiri penyelesiaannya karena mediator hanya berperan untuk mengarahkan jalannya proses perundingan dan menjadi pihak yang netral. Setelah kesepakatan dicapai, maka para pihak akan menandatangani hasil kesepakatan yang menjadi semacam perjanjian yang mengikat para pihak.

 

Persamaan

  1. Merupakan Alternatif Penyelesaian Sengketa

Berdasarkan Pasal 1 angka 10 UU Arbitase, Alternatif Penyelesaian Sengketa adalah lembaga penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui prosedur yang disepakati para pihak, yakni penyelesaian di luar pengadilan dengan cara konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi, atau penilaian ahli. Berdasarkan ketentuan tersebut maka arbitrase dan mediasi sama-sama merupakan sebuah cara penyelesaian sengketa di luar pengadilan. Meskipun begitu, di dalam proses penyelesaian sengketa melalui pengadilan khususnya perkara perdata, maka para pihak harus menempuh proses mediasi lebih dulu sebelum masuk ke dalam tahap  pemeriksaan perkara.

  1. Sama-Sama Menggunakan Pihak Ketiga

Menurut Pasal 1 angka 7 UU Arbitrase, arbiter adalah seorang atau lebih yang dipilih oleh para pihak yang bersengketa atau yang ditunjuk oleh Pengadilan Negeri atau oleh lembaga arbitrase, untuk memberikan putusan mengenai sengketa tertentu yang diserahkan penyelesaiannya melalui arbitrase. Sementara Mediator menurut Pasal 1 angka 2 Perma Mediasi adalah Mediator adalah Hakim atau pihak lain yang memiliki Sertifikat Mediator sebagai pihak netral yang membantu Para Pihak dalam proses perundingan guna mencari berbagai kemungkinan penyelesaian sengketa tanpa menggunakan cara memutus atau memaksakan sebuah penyelesaian. Berdasarkan pengertian tersebut, maka baik mediasi maupun arbitrase memiliki satu kesamaan yaitu menunjuk pihak ketiga yang netral untuk membantu penyelesaian sengketa.

  1. Kesamaan Tujuan

Keduanya memiliki tujuan untuk mempersingkat proses penyelesaian sengketa. Sebagaimana diketahui, proses penyelesaian arbitrase dianggap cukup efisien dan efektif dibandingkan pengadilan karena dalam prosesnya para pihak dapat memilih sendiri tempat arbitrase, menunjuk arbiter sendiri, dan putusanya yang bersifat final sehingga tidak ada lagi upaya-upaya hukum yang dapat menghambat pelaksanaan putusan. Begitupun dengan mediasi, jika kesepakatan dalam mediasi dicapai maka para pihak tidak perlu melanjutkan penyelesaian sengketa hingga proses persidangan.

Author : Kintan Ayunindya

Leave a Comment