Skip to content
Apakah PT PMA dapat Menjadi Distributor dan Retailer Secara Bersamaan?

Apakah PT PMA dapat Menjadi Distributor dan Retailer Secara Bersamaan?

Apakah PT PMA dapat Menjadi Distributor dan Retailer Secara Bersamaan?

Model bisnis distributor maupun retailer sering kali menjadi skema yang disukai banyak investor asing. Apalagi, dengan produk yang berupa Fast Moving Consumer Goods (FMCG) dan juga barang-barang manufaktur. Selain karena karakterisitik produknya yang mudah dipindahtangankan dalam jumlah besar, skema ini juga mampu menyederhanakan biaya yang dibutuhkan. Hal tersebut dapat dilihat dari perbandingannya, di mana apabila harus memproduksi, perusahaan tak jarang harus menyediakan pabrik sendiri sebagai basis produksi.

Ketika kita melihat kenyataan di lapangan, kita dengan mudah dapat membedakan perusahaan asing mana yang merupakan distributor dan mana yang merupakan retailer. Hanya saja, pertanyaan yang muncul adalah, bisakah sebuah perusahaan penanaman modal asing menjadi distributor dan retailer secara bersamaan? Apakah terdapat ketentuan hukum yang membatasinya? Nah, coba simak penjelasan berikut ini!

Sebelum diskusi lebih lanjut, kita harus memahami apa itu Perseroan Terbatas dengan Penanaman Modal Asing (PT PMA). Menurut Undang Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UU Penanaman Modal), pada Pasal 1 angka 3 yang pada intinya adalah penanaman modal asing, baik langsung maupun tidak langsung, yang menggunakan modal asing sepenuhnya maupun sebagian. Di mana modal asing yang disebut di sini adalah modal yang dimiliki negara asing, perseorangan asing, badan hukum asing, dan/atau badan usaha asing.

Setelah itu, kita harus paham perbedaan antara perusahaan retail dan distributor. Pertama, perusahaan retail melakukan usaha dengan membeli barang dalam jumlah besar dari produsen lalu menjualnya kembali kepada end customer atau individu secara luas. Ketika menjualnya kembali kepada individu, mereka menjualnya dalam jumlah kecil atau eceran. Kita dapat dengan mudah menemui contoh usaha retail seperti supermarket, department store, retailer store, car dealer, atau toko kelontong.

Baca Juga : PAHAMI 5 TIPS INI AGAR PERJANJIAN KEAGENAN ANDA TIDAK MELANGGAR UU PERSAINGAN USAHA

Sementara, perusahaan distributor memiliki karakteristik yang sedikit berbeda. Perusahaan ini pada dasarnya juga melakukan pembelian dalam jumlah besar dari produsen, namun yang membedakan adalah distributor tidak menjual langsung kepada end customer. Perusahaan distributor akan menjual barang-barangnya lagi kepada agen atau pedagang-pedagang kecil. Biasanya, kerja sama antara distributor dengan agen di bawahnya menggunakan sistem beli putus atau pembagian komisi.

Untuk lebih mudah memahami perbedaan keduanya, silahkan disimak karakteristik dari kedua model usaha tersebut:

  1. Ciri-ciri usaha retail
    1. Membeli barang dari produsen dalam jumlah besar;
    2. Memfilter barang tersebut berdasarkan jenis, ukuran, dan kualitas;
    3. Menjual kembali barang tersebut kepada end customer;
    4. Tidak terikat langsung dengan produsen; dan
    5. Bisa menjual barang dari produsen yang berbeda-beda.
  1. Ciri-ciri usaha distributor
    1. Membeli barang dari produsen dalam jumlah besar;
    2. Menjual kembali barang tersebut kepada agen/pedagang eceran lagi;
    3. Memiliki batasan cakupan wilayah;
    4. Terikat dengan produsen untuk membeli barang dalam jumlah dan waktu tertentu; dan
    5. Dilarang menjual barang milik produsen lain.

Setelah mengetahui definisi dari PT PMA, retail, dan distributor kita harus merujuk pada peraturan lain lagi. Kali ini ialah Daftar Negatif Investasi (DNI). Di Indonesia, DNI diatur oleh Peratura Presiden Nomor 44 Tahun 2016 Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal (“Perpres DNI”). Di dalam Pasal 2 ayat (1) Perpres DNI, bidang usaha dalam hal penanaman modal dibagi menjadi 3, terdiri dari:

  1. Bidang Usaha Terbuka adalah bidang usaha yang dilakukan tanpa persyaratan dalam rangka penanaman modal;
  2. Bidang Usaha Tertutup adalah bidang usaha tertentu yang dilarah diusahakan sebagai kegiatan penanaman modal;
  3. Bidang Usaha Terbuka dengan Persyaratan adalah bidang usaha tertentu yang dapat diusahakan untuk kegiatan penanaman modal dengan persyaratan, yaitu adalah bidang usaha tertentu yang dapat diusahakan untuk kegiatan penanaman modal dengan persyaratan, yaitu dicadangkan untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah serta Koperasi, Kemitraan, kepemilikan modal, lokasi tertentu, perizinan khusus, dan penanam modal dari negara Association of Southeast Asian Nations (ASEAN).

Lalu, kembali ke pertanyaan awal, bisakah PT PMA melakukan usaha distribusi dan retail sekaligus? Untuk menjawab pertanyaan ini, kami telah menelusuri isi dan lampiran Perpres DNI serta website Online Single Submission (OSS). Kami menemukan di lampiran Perpres DNI, perdagangan distributor yang tidak terafiliasi dengan produksi merupakan Bidang Usaha terbuka dengan persyaratan modal asingnya maksimal sebesar 67%. Sementara untuk bidang usaha retail atau perdagangan eceran, harus disesuaikan dengan jenis barang yang diperdagangkan. Sebagai contoh, supermarket dengan luas kurang dari 1.200 m2 tertutup untuk modal asing. Sementara untuk Department Store dengan luas lantai 400 – 2.000 m2 terbuka maksimal sebesar 67% untuk modal asing.

Berdasarkan fakta di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa PT PMA dapat melakukan usaha distribusi dan retail secara bersamaan. Selama, tidak menyalahi ketentuan jumlah penanaman modal yang dibatasi oleh Perpres DNI. Kombinasi yang paling memungkinkan adalah usaha distribusi dan retail dalam bentuk Department Store. Di mana kedua bidang usaha tersebut sama-sama memiliki batasan sebesar 67% kepemilikan modal asing. Sehingga secara matematis dan hukum, memungkinkan untuk dilakukan secara bersamaan oleh sebuah PT PMA.

Oleh : Hanif Abdul

Baca Juga : PPHBI Gelar Kursus Singkat Penanaman Modal Asing dan Dunia Perseroan Terbatas | KlikLegal

Leave a Comment