
Geser Jepang, Amerika Masuk 5 Besar Negara Dengan Investasi Terbesar di Indonesia
Geser Jepang, Amerika Masuk 5 Besar Negara Dengan Investasi Terbesar di Indonesia
Diproyeksikan 3-5 tahun kedepan semakin banyak perusahaan Amerika Serikat yang melakukan ekspansi atau investasi di Indonesia.
Amerika Serikat menjadi salah satu investor yang memiliki peran penting di Indonesia. Peran ini dapat direfleksikan dengan nilai investasi yang direalisasikan perusahaan asal Amerika Serikat, yaitu terakumulasi sebesar US$2,537,218.5 miliar pada tahun 2021. Dengan nilai investasi sebesar ini, Amerika Serikat menduduki peringkat ke-4, dengan menggandeng sebanyak 824 proyek. Adapun Negara yang memiliki nilai investasi terbesar pada tahun 2021 adalah Singapura, Hongkong, dan Tiongkok yang menduduki peringkat 1,2 dan 3.
Munculnya Amerika Serikat dalam lima besar investor asing di Indonesia menjadi kabar positif. Pasalnya, Negara Paman Sam bukanlah negara langganan lima besar investor asing di Indonesia seperti Jepang, Singapura, atau Cina. Jika dilihat pada tahun-tahun sebelumnya, Amerika Serikat biasanya hanya menempati peringkat ke-7 nilai investasi terbesar.
Berikut merupakan peringkat negara yang memiliki investasi terbesar di Indonesia berdasarkan nilai investasi:

Source : BKPM
Berdasarkan survei Standard Chartered dalam “Borderless Business: US-ASEAN Corridor”, Indonesia memiliki peringkat kedua dalam target negara investasi yang akan dilakukan perusahaan-perusahaan Amerika Serikat pada negara ASEAN. Dengan adanya keinginan yang kuat dari para eksekutif perusahaan Amerika Serikat, diproyeksikan 3-5 tahun kedepan semakin banyak perusahaan Amerika Serikat yang melakukan ekspansi atau investasi di Indonesia.
Berikut merupakan sektor-sektor yang paling banyak diminati Amerika Serikat dalam Investasinya, diurutkan berdasarkan nilai investasi pada tahun 2021:

Source : BKPM
Pada tahun 2021, dapat dilihat bahwa sektor yang paling diminati Amerika Serikat adalah sektor pertambangan dengan US$.2,537,218.5 miliar. Minat Amerika Serikat pada investasi di bidang pertambangan tidak hanya investasi Amerika Serikat pada perusahaan Freeport, tetapi tidak lain juga karena ambisi Amerika Serikat pada Air Products and Chemicals Inc (APCI) untuk hilirisasi batubara menjadi Dimetil Eter (DME). Seperti yang diketahui bersama, DME itu sendiri merupakan salah satu bahan untuk subtitusi elpiji.
Berbeda dengan Amerika, negara lain yaitu Singapura, China, Hongkong, dan Jepang memiliki minat investasi terbesar pada industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya serta sektor transportasi, gudang dan telekomunikasi pada urutan pertama dan kedua berdasarkan nilai investasi terbesar. Selain itu, sektor-sektor lain yang diminati Singapura, China, Hongkong, dan Jepang pada urutan selanjutnya berkisar antara sektor perumahan/perkantoran, makanan, pertambangan, serta listrik, air, dan gas.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat menjelaskan, sektor lain yang diminati Amerika Serikat selanjutnya di Indonesia adalah pada bidang infrastruktur. Presiden Indonesia sendiri berharap kedepannya Amerika dapat berinvestasi pada industri hilir nikel. Beliau mengatakan bahwa Indonesia, yang merupakan negara yang memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, memiliki potensi besar sebagai produsen utama produk-produk berbasis nikel seperti baterai lithium, baterai listrik, atau baterai kendaraan listrik.
Indonesia juga berharap Amerika Serikat kedepannya mau berinvestasi pada pembangunan industri panel surya. Untuk menarik perhatian Amerika Serikat, Indonesia telah menyiapkan segenap regulasi terkait carbon pricing, baik berupa baik dalam bentuk emission trade system (ETS) maupun pajak karbon. Dengan segenap keinginan kuat antara Amerika Serikat – Indonesia terkait investasi, menjadi sangat mungkin nilai investasi Amerika Serikat kedepannya akan naik.
Apabila Anda ingin berkonsultasi dan memerlukan asistensi hukum untuk perusahaan anda, silahkan hubungi Kami melalui ask@bplawyers.co.id atau 082112341235.
Andrew Nibrass Hariyoto