Skip to content
Dua Skema Kerjasama Dengan Investor Untuk Mengembangkan Bisnis Anda

Dua Skema Kerjasama Dengan Investor Untuk Mengembangkan Bisnis Anda

Dua Skema Kerjasama Dengan Investor Untuk Mengembangkan Bisnis Anda

Kedua cara tersebut erat kaitannya dengan aspek legalitas dan kepatuhan hukum oleh perusahaan yang harus tetap dijaga. 

Pandemi Covid 19 menyebabkan Pelaku Usaha perlu memikirkan ulang strategi bisnisnya. Adanya strategi bisnis yang berbeda menyebabkan Pelaku Usaha memerlukan pendanaan dari pihak lain atau investor. Namun, Pelaku Usaha atau Perusahaan yang sudah berdiri tidak semudah itu dalam mendapatkan dana, terdapat skema-skema yang berkaitan dengan aspek hukum yang perlu diperhatikan. Ada dua cara yang dapat dijadikan opsi oleh Pelaku Usaha apabila akan mendapat dana dari calon investor. Kedua cara tersebut erat kaitannya dengan aspek legalitas dan kepatuhan hukum oleh perusahaan yang harus tetap dijaga. 

 

  1. Skema Jual Beli Saham
    Skema pertama adalah yang paling sederhana, jual beli saham. Apabila Pelaku Usaha menggunakan skema ini, maka dana yang diberikan oleh investor tidak akan masuk ke Perusahaan, namun diberikan langsung kepada pemegang saham yang menjual sahamnya kepada investor. Skema ini seringkali digunakan apabila pemegang saham membutuhkan sejumlah dana atau ingin menggandeng partner baru dalam bisnisnya.

    Dengan menggunakan skema jual beli saham ini, investor dapat mengambil porsi kepemilikan saham dalam perusahaan sesuai dengan jumlah saham yang dibelinya. Biasanya, sebelum investor masuk dengan menggunakan skema ini, pemegang saham yang akan menjual sahamnya menawarkan saham miliknya terlebih dahulu kepada pemegang saham lainnya. Ketika pemegang saham lainnya tidak menerima tawaran tersebut, barulah pihak lain atau investor yang membeli saham tersebut. Namun, penawaran saham kepada Pemegang Saham lainnya tidak selalu wajib sesuai dengan ketentuan Pasal 43 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT), yakni apabila jual beli tersebut dalam rangka reorganisasi atau restrukturisasi yang telah disetujui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), maka tidak perlu dilakukan penawaran saham.

    Selain itu, dalam Pasal 57 UUPT disebutkan bahwa terkait keharusan atau ketidakharusan penawaran saham ini dapat dicantumkan dalam Anggaran Dasar Perusahaan. Sehingga, perusahaan yang akan mendapatkan bantuan dana dari investor dengan menggunakan skema jual beli saham terlebih dahulu harus melihat ketentuan Anggaran Dasar dan ketentuan Pasal 43 UUPT mengenai wajib tidaknya untuk menawarkan saham yang akan dijual tersebut kepada Pemegang Saham lainnya.

    Dalam skema ini, tidak akan menyebabkan adanya perubahan jumlah atau nilai saham yang sudah diterbitkan oleh perusahaan. Penting diketahui oleh Pelaku Usaha, bahwa prosedur jual beli saham dengan investor tetap harus mengikuti semua ketentuan perubahan pemegang saham sesuai dengan apa yang diatur dalam UUPT.

    Baca Juga : Pahami Ini Sebelum Bertemu Calon Investor

  2. Skema Penerbitan Saham Baru
    Hal utama yang membedakan antara skema pertama dan kedua adalah dana investasi akan masuk langsung ke Perusahaan. Penerbitan saham baru berarti akan menambah jumlah modal yang masuk ke dalam Perusahaan. Selain itu perbedaan lainnya adalah adanya dilusi saham apabila skema Penerbitan Saham Baru dilakukan.

    Dilusi saham adalah penurunan dalam porsi kepemilikan pemegang saham yang sudah ada sebagai hasil dari penerbitan saham baru, dan pemegang saham tersebut tidak menyetorkan lagi modal untuk saham baru yang diterbitkan. Sebenarnya dalam UUPT Pasal 43 diatur ketentuan agar hak Pemegang Saham terlindungi dan tidak terjadi dilusi apabila Perusahaan menerbitkan saham baru yang mana nantinya akan diambil oleh pihak ketiga. Namun, karena dalam hal ini Perusahaan membutuhkan pendanaan dari investor, maka dilusi saham akan terjadi.

    Hal yang perlu diperhatikan juga dalam menerbitkan saham baru adalah dengan melakukan penilaian terhadap nilai perusahaan. Salah satu elemen yang dapat digunakan dalam  menilai perusahaan adalah dilihat dari jumlah laba yang dimiliki selama beroperasi hingga asset apa saja yang sudah dimiliki oleh Perusahaan. Hal ini berfungsi untuk menentukan jumlah saham baru yang diterbitkan yang nantinya akan dimiliki oleh investor.

    Adapun contoh penerbitan saham baru untuk investor yang menyebabkan terjadinya dilusi saham adalah sebagai berikut. PT Bahagia Selamanya memiliki dua Pemegang Saham yakni Bagus dan Tio. Porsi kepemilikan sahamnya adalah Bagus 70% dan Tio 30%. Kemudian Perusahaan membutuhkan modal dari investor, masuklah Hendra yang akan membeli 10% dari total saham Perusahaan.

    Maka, dengan adanya penerbitan saham baru yang diberikan kepada Hendra, maka akan terjadi dilusi saham milik Bagus dan Tio. Sehingga porsi kepemilikan saham berubah menjadi Bagus 63%, Tio 27% dan Hendra 10%.

Kesimpulan

Pelaku Usaha dapat menentukan dari kedua skema tersebut di atas apabila ada investor yang akan memberikan dananya untuk investasi. Kedua skema tersebut jelas memiliki akibat hukum dan prosedur pelaksanaan yang berbeda. Pelaku Usaha dapat menentukan pilihan diantara dua skema tersebut berdasarkan dengan kebutuhan dana investasi yang diperlukan oleh Perusahaan.

Sebelum memutuskan untuk melakukan melakukan investasi, Anda harus melakukan pendalaman terhadap visi, tujuan dan kecermatan memahami peluang dan ancaman yang ada. Jangan sampai ada aspek hukum yang terlewatkan setelah anda mengambil keputusan. BP Lawyers dapat membantu anda dalam melakukan uji tuntas dan segi hukum, menyediakan legal opini, melakukan due diligence, dan memberikan advis hukum agar anda dapat membuat keputusan terbaik dalam bisnis anda. Silakan hubungi kami melalui ask@bplawyers.co.id atau 082112341235

Author: Andi Akhirah Khairunnisa

Leave a Comment